Prinsip- prinsip Dalam Dunia Asuransi

6 Prinsip-Prinsip Dalam Dunia Asuransi Yang Harus Di Ketahui

 

Prinsip- prinsip Dalam Dunia AsuransiAsosiasi Asuransi Jiwa Indonesia( AAJI) mengatakan kalau masih banyak masyarakat Indonesia yang belum melek asuransi, paling utama asuransi jiwa Sebenarnya, salah satu nilai berarti dalam memahami asuransi adalah mengenali keberadaan prinsip asuransi, karena prinsip asuransi sendiri bisa menjelaskan gimana mekanisme sesuatu asuransi bekerja.

Pentingnya Mengetahui Prinsip Dasar Asuransi

Secara biasa, kehadiran asuransi adalah untuk memberikan proteksi atau perlindungan. Baik asuransi kesehatan, asuransi jiwa, maupun asuransi properti, semuanya mempunyai tujuan yang sama, ialah mencegah dari kemungkinan resiko. Banyaknya jenis asuransi tidak jarang membuat masyarakat biasa bimbang untuk menguasai produk asuransi lebih dalam.

Oleh karena itu, dengan memahami dengan baik prinsip asuransi, Kamu akan bebas dari kesalahpahaman dan membuat Kamu mengetahui apakah Kamu akan mendapat manfaat asuransi yang sesuai dengan ekspektasi ataupun justru kebalikannya.

Prinsip dalam Dunia Asuransi

1. Insurable Interest

Prinsip ini menjelaskan kalau seseorang diberikan hak untuk mengasuransikan sesuatu karena ada ikatan keluarga ataupun ekonomi yang mendasarinya. Hak ini otomatis timbul setelah adanya akad yang sering disebut Polis dan sudah mempunyai dasar hukum.

Selaku contoh, untuk mengasuransikan seseorang, Kamu wajib mempunyai hubungan seperti ayah, bunda, suami, istri, dan anak. Pasti Kamu bisa mengasuransikan diri sendiri, kok!

Contoh yang lain adalah Kamu bisa mengasuransikan bidang usaha Kamu sendiri atau orang- orang berkaitan dengan bidang usaha Kamu seperti karyawan.

2. Utmost Good Faith

Sesuai dengan namanya, prinsip ini mempunyai maksud yaitu niat ataupun itikad baik. Artinya adalah, dalam cara membeli produk asuransi, baik Tertanggung( nasabah) ataupun Penjamin( perusahaan asuransi) wajib menyampaikan informasi dengan terbuka, rinci, serta jujur.

Misalnya, Tertanggung harus menjawab dengan jujur beberapa persoalan pada screening resiko sebelum membuat perjanjian, seperti penyakit bawaan, aktivitas merokok, pengalaman dirawat di rumah sakit, serta lain- lain.

Hal ini juga legal untuk Penjamin, di mana industri asuransi wajib menyampaikan perinci produk dan tidak menutup- nutupi informasi yang wajib diketahui Tertanggung.

3. Indemnity

Indemnity sering juga diucap sebagai prinsip ganti rugi. Industri asuransi selaku Penjamin wajib memberikan ganti rugi pada Tertanggung sesuai dengan perjanjian pada akad ataupun polis. Setelah itu, nilai tanggungan wajib sesuai dengan angka klaim yang sudah diajukan tanpa pengurangan ataupun penambahan nilai.

4. Subrogation

Subrogasi berkaitan dengan situasi di mana kerugian yang dirasakan Tertanggung disebabkan oleh pihak ketiga( orang lain). Jika melihat pada artikel 1365 KUH Perdata, pihak ketiga yang bersalah wajib mengganti kerugian Tertanggung.

Lalu, bagaimana apabila Tertanggung memiliki asuransi?

Dalam asuransi, subrogasi mengharuskan Tertanggung memilih salah satu dari sumber pengganti kerugian, ialah Penjamin ataupun pihak ketiga. Tertanggung tidak bisa memilih dari keduanya, karena Tertanggung akan menemukan penggantian melampaui yang semestinya.

Lain halnya jika Tertanggung tidak menemukan ganti rugi secara penuh dari pihak ketiga, maka Tertanggung bisa memohon hak ganti rugi sesuai dengan selisih yang ada pada Penanggung. Begitu pula apabila Tertanggung sudah mendapat penggantian dari Penjamin, maka Tertanggung tidak bisa menuntut pihak ketiga.

5. Contribution

Pernah mendengar saudara Kamu dirawat di rumah sakit dan biayanya di- cover oleh 2 asuransi yang berbeda? Nah, situasi itu adalah contoh dari prinsip contribution. Dalam prinsip ini, pihak asuransi mempunyai hak untuk mengajak Penjamin yang lain untuk menanggung kerugian Tertanggung.

Misalnya, Pak Andi dirawat di ICU selama 7 hari dan memakan biaya sampai 200 juta rupiah. Tagihan perawatan Pak Andi di- cover oleh asuransi BCD sebesar 90 juta. Jika pak Andi mempunyai Polis asuransi lain, yaitu asuransi EFG, maka asuransi EFG hanya perlu membayar sisa tagihan ialah sebesar 110 juta rupiah.

6. Proximate Cause

Prinsip asuransi yang terakhir adalah prinsip kausa proksimal, di mana tiap kerugian yang terjadi tentu ada faktornya. Mengacu prinsip ini, Penjamin hanya akan mengganti kerugian Tertanggung apabila sesuatu peristiwa disebabkan oleh penyebab yang diatur dalam polis.

Penutup

Sebagai masyarakat pintar, mengetahui 6 prinsip asuransi adalah cara untuk mengoptimalkan pemakaian produk asuransi yang telah dibeli. Hal ini juga menolong Kalian untuk menghindari kesalahpahaman di kemudian hari. Semoga bisa membantu kalian yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *